SLOW DOWN YOUR SPEED AND TAKE A REST

September 13, 2019


Begitu caption yang kubuat untuk satu unggahan foto di Instagram. Sebuah foto yang menggambarkan seorang yang sedang selonjoran di pinggir pantai. Saat itu, aku iri dengan orang-orang yang bisa bersenda gurau di pagi hari. Atau setidaknya, bisa leyeh-leyeh meskipun itu masih pagi. Bagaimana tidak, senin hingga jumat sedari pukul tujuh higga pukul empat, aku bekerja. Menempuh jarak perjalanan pulang pergi yang masing-masing 30menit. Jadi kalau ditotal, waktu 24 jam sehari hanya tersisa 14 jam untuk melakukan hal lainnya. Termasuk kalau tidur 8 jam sehari sesuai saran dokter.

Kurasa, kehidupan semakin melaju kencang. Meski tak semua pakai sabuk pengaman. Semua serba cepat dan seakan terburu-buru. Coba saja luangkan waktu sebentar di pagi hari, di pinggir jalan. Semua kendaraan bermotor terburu-buru menambah laju. Ia yang sedang berada di lampu merah pun berebut saling mendahului garis batas berhenti. Area yang tadinya dikhususkan untuk sepeda, hilang haknya begitu saja. Roda-roda itu menggelinding, saling salip.

Sudah hampir seminggu. Kaki ini mengayuh sepeda berwarna putih gading. Tertulis, Sierra. Tapi, belum kutemukan nama yang tepat untuknya. Perjalanan bersepeda kuawali dengan 13km pertama, yaitu saat kubawa pulang sepedaku dari toko yang menjualnya. Setelahnya, kilometer-kilometer berikutnya pun tercipta. Sekadar ke pasar, atau pulang pergi bekerja.

Salah jika orang mengira perbedaan utama sepeda dan sepeda motor hanyalah soal kecepatan dan fisik si objeknya. Menurutku, perbedaan yang nyata justru ada pada subjeknya; pengendara. Mereka yang terbiasa dengan kecepatan, memburu jarak hanya dalam hitungan menit, menuntut untuk segera sampai. Hal pertama yang kurasakan berbeda adalah, psikologis pengendara. Ada perasaan “kok nggak sampai-sampai sih...” ketika kayuhan sepeda sudah terasa berat namun jarak tempuh masih dekat. Belum lagi soal salip menyalip, pesepeda yang masih bermindset pengendara motor akan terpantik emosinya manakala ada kendaraan yang lebih pelan berjalan di depannya. Mudah bagi pengendara motor, ia hanya tinggal menambah kecepatan dengan menarik tuas gas lebih dalam. Namun bagi pesepeda, genjotan yang lebih cepat tak bisa dihasilkan dengan kilat. Ada lebih banyak kalori yang dibutuhkan, ada lebih banyak gaya (F=m.a) yang dikeluarkan, sehingga perlu dipikirkan apakah perlu menyalip atau bersabar di belakangnya. Lantas, menyalip menjadi sebuah pembuktian apakah itu kebutuhan atau pemenuhan nafsu belaka. Sampai di sini, bersepeda bagiku adalah gabungan dari olahraga jasmani dan rohani. Mengerem laju hidup untuk lebih melihat yang selama ini luput.

Siang tadi, sebelum berangkat bersepeda ke tempat kerja baru yang jaraknya hanya sekita 2Km, tetanggaku menyapa dengan sapaan tak biasa, “Halah, lha kok ngepit... (Lah, kenapa gowes?)”. Sambil mengayuh pedal, perkataan itu kupikirkan betul-betul. Ada sesuatu yang terdepresiasi di sana. Kata “Halah” yang diletakkan di depan kalimat mengisyaratkan keterkejutan sekaligus pengabaian. Contohnya saja; “Halah, gampang”, “Halah, itu kebetulan”, “Halah, dia itu siapa”. Aku belum menemukan penggunaan kata “Halah” untuk sesuatu yang menakjubkan.

Masih diiringi suara gesekan gear dan rantai, pikiran ini merambat pada status sosial. Di daerahku yang masih mengenal tatanan pedukuhan, bisa jadi sepeda menunjukkan kasta. Ia yang bermobil dianggap kaya raya, bermotor sejahtera, dan bersepeda berada satu level di bawahnya. Pikiran selewatan tadi didukung oleh tanggapan kawan-kawan di tempat kerja yang menafikan eksistensi sepeda sebagai alat transportasi. “Kober banget sih ngepit...” kata mereka. Padahal kalau mau menyoal harga, coba mereka main ke gerai sepeda, dari jutaan hingga puluhan juta pun tersedia.

Dahulu Bapak pernah bercerita kalau orang di daerahku punya ciri khas di wajahnya; belang sebelah. Karena ketika pagi berangkat bersepeda ke kota melewati jalanan panjang dan lurus hingga muka sebelah kanan terus menerus terkena paparan sinar matahari, begitupun ketika pulang di sore hari bagian wajah yang sama pun terpapar matahari. Entah guyonan atau memang sepeti itu adanya. Kini, gaung “bike to work” yang sempat marak di antara pekerja makin meredup, jargon “segoro amarto” yang diusung Sultan Jogjakarta pun agaknya bukan dipahami sebagai imbauan. Keduanya hanya diamini oleh segelintir orang saja, sisanya menjadi gaya hidup di akhir pekan.

Di tengah gempuran kredit motor ber DP ratusan ribu, bersepeda dalam arti yang sebenarnya menjadi semakin langka. Manusia modern tetap menuntut kecepatan yang membabi buta dibanding meluangkan waktu beberapa menit lebih awal untuk berangkat, menyiapkan dengan matang apa saja yang harus dibawa, dan bersuka cita menikmati perjalanan. Meskipun dalam jarak tertentu, kita tetap perlu alternatif lain selain sepeda. “Kita jadi lebih prepare sih Yang, jadi lebih perhitungan soal waktu, lama-kelamaan mindset juga jadi lebih nggak terburu-buru, jadi lebih sabar...” begitu kata kekasihku yang sudah cukup lama bersepeda.

Tulisan ini kubuat setelah bersepeda 3 Km dari rumah, di sebuah perpustakaan kota di daerah tempat tinggalku, sembari menunggu waktu bertemu dengan seorang kawanku. Sepanjang pejalanan tadi aku melewati persawahan yang sudah selesai panen, bertegur sapa dengan sesama pesepeda, sesekali menikmati hempasan angin yang lebih lembut terasa. Ya, bersepeda membuat mata lebih terbuka. Sesekali, kamu kudu coba. Slow down your speed and take a rest. Bukan sok nginggris seperti apa yang Uda Lanin persoalkan dalam bukunya, tapi frasa yang tercetus begitu saja itu lebih terasa bermakna. Barangkali kamu bisa mencari padanan kata yang satu rasa.

NFR.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe