Sampai jumpa, Bumi Sunda...

May 10, 2019


Kota ini teduh. Sama seperti yang ada di bayanganku bertahun-tahun lalu. Aku yang semasa itu masih kanak-kanak. Suatu hari Bapak pulang membawa dua keping VCD film tentang dua orang anak SD yang pada awalnya bermusuhan, kemudian menjadi berkawan. Lembang. Kebun teh. Bosscha. Bandung. Bandung. Lalu Bandung. Nama-nama itu terngiang lantang. Meskipun kemudian terlupa. Lama. Hingga 14 tahun setelahnya, Bandung menjelma menjadi nyata. Aku percaya. Manusia bisa lahir dua kali. Satu oleh ibu mereka. Satu lagi, oleh dirinya sendiri. Dan di kota ini, aku melahirkan aku.

September 2014. Meski bukan pertama kali kaki ini menjengkal tatar sunda, tapi tiap derapnya kali itu rasanya berbeda. Aku ke Bandung. Bukan lagi seminggu. Tapi untuk entah berapa lama...

Aku di sini, bekerja. Sedari senin hingga jumat, pagi pukul tujuh hingga sore pukul empat. Memang bukan di Bandung, tapi Cimahi dan Bandung Barat. Wilayah yang berbeda dengan Bandung tapi tetap saja ketika orang bertanya tinggal di mana, akan selalu dijawab “di Bandung”. Terkadang itu menjadi guyonan sederhana. Ah, sebentar. Biar ku revisi. Aku di sini, bermain. Bekerja adalah kegiatan sambilan yang terjadwal. Sejak awal, aku ingin menghimpun Bandung sebanyak yang kubisa. Menelusuri gang-gang permukimannya. Mengenal tradisi budayanya, sejarahnya. Supaya ketika meihat Bandung, aku tak hanya pakai satu kaca mata. Supaya kenangan tentang Bandung bukan melulu soal pekerjaan.

Rasanya, manusia perlu merasakan jauh dari rumah. Seperti Syafi’i bilang, tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang, kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan. Merantau. Bagiku, itu adalah kata lain dari menumbuhkan diri sendiri. Beradptasi, berdamai dengan kondisi. Melihat, mengenal, merupa sebuah kota baru seisinya. Dan cara terbaik untuk mengenal Bandung adalah membaur dengannya, berbicara dengan bahasanya. Iya, sanaos saalit mah, abdi tiasa nyarios sunda...
Orang sunda itu ramah. Kita bisa menemukan keaslian mereka dengan mudah di pasar atau warung-warung kecil di pinggir jalan. Aku sering hanya duduk-duduk di Braga. Sebuah jalan paling menyenangkan seantero kota. Sambil sarapan bubur ayam gerobakan di sebuah gang, dan ngobrol dengan orang sekitar. Kadang cerita mereka lucu, terkadang juga pilu. Pernah seorang bapak bercerita bahwa rumahnya di daerah kampung Afandi terancam digusur. Miris. Bukankah rumah adalah pusat kehidupan seseorang? Ketika itu diambil paksa... entahlah apa rasanya. Tak jarang, obrolan-obrolan itu mengendap di pikiran. Menjadikannya sebuah pelajaran, atau sekadar bahan renungan.

Kurasakan, aku mengakar dan bertumbuh di kota ini. Rasa yang timbul semakin menguat jutru ketika tiba saatnya harus pergi. Aku akan kembali pada ibuku. Pusat duniaku yang pertama. Meninggalkan bandung dengan segenap ceritaya. Kehilangan hingga menemukan. Susah hingga bahagia. Jatuh cinta hingga patah hati. Putus asa hingga bangkt lagi. bahagia. Resah. Segalanya. Kubiarkan mengendap di kota ini. Hingga nantinya kupantik lagi saat aku kembali.

Kepada, Bandung.

Hatur nuhun.


You Might Also Like

0 komentar

Subscribe