Ikatan batin yang kedaluwarsa

May 26, 2019


Seseorang lahir dari rahim seorang ibu. Menjalin ikatan darah dengan manusia2 lain yang telah lahir terlebih dahulu. Darinya kita mengenal panggilan kakak, adik, tante, om atau pakde budhe.

Sayangnya, kuatnya ikatan darah tak menjamin akan kuat pula ikatan batin di antaranya. Kadang, justru seorang ibu mengenal anaknya tak sebaik kawan si anak. Ibu yang hanya mengenal anaknya di rumah, akan menganggap anaknya biasa2 saja atau baik2 saja. Padahal di luar rumah, si anak berbuat banyak hal besar urusan kemanusiaan atau justru sebaliknya. Lantas apresiasi melemah, pada akhirnya apa yang disebut ikatan batin menghilang sudah.

Seperti siang ini, seorang saudara dekat sedang berduka. Janin yang dikandungnya 6 bulan, tiada. Betapa ayah dan ibu si janin sangat terpukul. Terlebih si ibu, yang dengan kesadaran penuh melahirkan normal tanpa mengharap tangisan di ujung perjuangannya. Di akhir kesakitannya. Di rahimnya, janin itu menemui hidup sekaligus ajalnya. Betapa duka cita yang mendalam mereka rasa.

Aku melihat ikatan darah di antara keluarga itu tak menghasilkan ikatan batin yang nyata. Aku melihat banyak senyum dan obrolan yang terjadi selama ini hanya normatif belaka. Nyatanya, siang ini di depan ruang bersalin hanya hadir seorang adiknya. Ketika si adik menghubungi kakak dan adiknya yang lain, mereka berdalih sibuk menyiapkan buka puasa. Betapa Ramadan membutakan mata hati mereka.

Tunggu, bukan Ramadannya, tapi mereka yang buta akan Ramadan. Memilih amalan2 yang banyak didengungkan berpahala besar. Memilih normatif ibadah puasa adalah menahan makan minum, salat taraweh, dan segenap ibadah penuh gengsi lainnya lebih utama dibanding sekadar hadir menemani saudaranya yang sedang berduka. Kegiatan masak buka puasa lebih mengasyikkan dibandingkan duduk memeluk saudaranya yang kehilangan bayinya. Atau, berbondong mengaji di sana sini lebih terlihat berpahala dibanding menemani anaknya di rumah yang menumpuk rindu pada usapan tangan ibunya. Lantas Tuhan, sebenarnya, apa itu pahala?

Bukankan, kalau kau merasa Tuhanmu dekat, seruan perlahan pun akan Dia dengar?

Begitulah. Kurasa, orang sibuk mengejar pahala2 bergengsi, dan melupakan perlahan apa apa dibsekitarnya yang sesungguhnya lebih berarti...

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe