Hai, Pa.

May 22, 2019



Malam tadi dia pulang larut. Aku benci. Sedari dulu, kenapa dia tidak berubah. Selalu mementingkan urusannya di atas segalanya. Aku ingat, di satu malam aku mengejarnya yang hendak pergi mengaji. Aku yang bertelanjang kaki. Aku yang memakai piyama. Aku yang terlihat cengeng. Padahal aku hanya ingin; ditemani.

Banyak waktunya habis di kantor. Senin hingga sabtu selalu pulang sore. Kadang maghrib. Lalu disusul dengan pengajian di malam2 tertentu. Hingga larut. Aku menjadi seakan tak mengenalnya. Padahal, kala itu sederhana saja. Aku ingin nonton teve bersamanya. Bercerita kejadian sehari2 dengan mesra. Dipuji. Dinasihati.

Lalu, Pa. Aku tak terbayang apa yang kau rasa. Betapa luasnya lautan sabarmu. Menyaksikan dia yang sibuk ke sana sini. Pa, baru kusadar, betapa jarangnya kalian duduk berbicara.

Aku tak mengerti, Pa. Apakah kebaikan yang berlebihan itu akan tetap menjadi baik? Apakah kebaikan itu hanya melulu dikerjakan dengan menyebut nama Tuhan? Apakah di rumah, duduk berbincang denganku itu tak masuk dalam hakikat kebaikan menurutnya? Membuatku senang, membuatku merasa nyaman? Haruskah kebaikan itu dikerjakan beramai2?

Pohon mangga di depan rumah ditebangnya. Kini tinggal satu saja. Aku benci. Tanpa berembuk, dia buru2 beraksi. Padahal pohon itu berarti. Seringkali ayunan tali terpasang di sana. Anak2 kecil mengerumuni untuk menjajal berganti2.

Pa, nanti ketika anakku telah ada, akan kujaga jiwa raganya. Akan kupuaskan kasih sayang baginya. Hingga tak ada lagi rengekan2 meminta teman. Apalagi, umpatan2 yang disembunyikan.

Pa, nanti ketika anakku telah ada, akan kudekati hatinya. Akan kubangun bahasa sanubari yang erat. Hingga tanpa nada dan kata, kami sanggup saling merasa.

Pa, kuharap aku tak durhaka. Karena ridho Tuhan ada di telapak kakinya. Tapi sungguh aku lebih menyayangimu daripadanya.

(NFR)

You Might Also Like

2 komentar

Subscribe