Masih pagi di Kanayakan

January 21, 2019




Aroma superpel wangi mawar menyeruak ke kamar. Di luar, teh Enci sepertinya telah sibuk mengepel lorong depan. Kulihat jam, masih di angka 4.40. Masjid sebelah sudah mengaji. Suaranya merdu. Mengantar mataku kembali beradu.

Sial, memang. Harusnya aku bangun dan mengambil wudhu. Setan kamar ini nampaknya tak jauh berbeda dengan setan kamar di tempatku yang lama. Ah, setan itu mungkin saja diri sendiri. Tapi, ya. Aku berpindah tempat tinggal.

Di sini, di Kanayakan...

Cimareme, 18 Januari 2019.
“Stay happy and healthy ya Nurul...”  kata mbak Upik. Dia, yang juga atasanku sekaligus seniorku di kampus, tahu apa yang aku putuskan. Tahu apa yang aku lakukan.

“Aku resign bukan karena bosan, Mbak” kataku.

“Iya. Do what u love to do. Kalau mau balik, jangan sungkan...” tuturnya.

Ya, memutuskan resign dengan alasan bosan itu bukan solusi. Sungguh, kebosanan itu bisa diatasi. Dalam kasusku; berpindah departemen, memilih menggunakan kendaraan sendiri dibanding fasilitas kantor, memasak makan siang sendiri, mengubah rute jalan pergi dan pulang. Dan banyak lainnya. Tapi ketika ada tawaran lain yang membuatmu bisa menambah nilai diri (tak melulu ekonomi) sila dipertimbangkan.

Maka pagi ini,
suara adhitya sofyan memenuhi kamar,
sinar matahari menembus kaca jendela,
teh hangat masih mengepul,
semangkok oats sekenanya,
aku yang duduk menghadap laptop menuliskan ini,
Welcome, life...

NFR

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe