Di 29

January 14, 2019


Aku hari ini bangun, dengan ibu di tempat tidur sampingku. Kamar 5x4 meter ini menjadi lebih menyenangkan. Karena ibu bertandang.
.
Setelah membuka mata, ia lalu bangun dan mengecup keningku. Mendoakan kesehatanku. Dan tentunya, jodohku. Kubilang padanya; iya, semoga tahun ini aku menikah. Aamiin, bisiknya dalam.
.
Aku di 29. Semakin merasa bahwa hidupku beragam. Aku menjadi sering mencocok2kan sifat. Ketika aku menjadi diam, aku teringat bapak yang sangat lekat dengan sifat itu. Ketika terlampau ramah dengan orang, aku teringat ibuku yang memang demikian.
.
Aku di 29. Justru akan memulai hidup yang anyar. Melepaskan kenyamanan sekian tahun bernaung di satu perusahaan. Aku akan hengkang. Tepat di akhir pekan. Bukan tak dipikirkan, justru berbulan2 lalu sudah bergumul di kepala tentang setiap kemungkinan.
.
Aku di 29. Merasa tak banyak teman. Kata orang, tak apa. Teman itu lebih baik sedikit tapi sefrekuensi. Aku ada satu teman yang dengannya aku bisa sambat apapun. Bahagia maupun kesedihan yanv menimpa. Ah, semoga diapun disegerakan menikah.
.
Aku di 29. Menunggumu. Sekaligus memmbenarkan kata mbak Astri. Tentang kerisauan jodoh yang tak lagi pakai emosi. Lebih realistis dan menata hati. Demi tidak lagi2 tersakiti. Tapi tetap, jangan lama2, aku menunggumu.
.
Aku di 29. Menyimpulkan hidup seperti lirik ini; perempuan di paruh waktu. Hatinya teguh ditempa kalut.
.
Aku di 29. Masih akan kuceritakan yang lainnya di kemudian...
.
NFR

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe