Bisa jadi, tahun depan aku mati.

December 28, 2018


Pekan terakhir di tahun 2018. Hujan masih turun sesekali. Awan2 hujan seringkali muncul bergerombol membentuk selimut tebal nan gelap di atas sana. Tulisan ini dibuat di atas atap menghadap ke barat. Menunggu matahari terbenam di perbukitan. Di sebelah gedung yang atapnya kunaiki ini, banyak anak2 bermain bola. Mereka ramai. Terlihat bahagia.

Jika ditarik mundur, awal tahun ini kumulai di Jakarta. Bersama Imam, kawan kampusku yang selalu mau kurepoti dengan tingkah polahku. Seharian berkeliling museum hingga akhirnya memutuskan ke Bogor menjelang tengah malam. Tepat di pergantian tahun, kami berlari menuju Gambir mengejar kereta yang akan membawaku ke Bandung. Di tengah padatnya Monas. Di tengah pikuknya jalanan dan jembatan penyebrangan. Sungguh awal tahun yang mendebarkan.

Sesungguhnya, Jakarta kala itu adalah pelarian diri. Bertemu kawan lama untuk menumpahkan banyak cerita. Ya, Januari menjadi bulan penuh penguatan diri. Mencoba bangkit dari patah hati. Kegagalan hubungan pada tahap usia mendekati 30 memang tak mudah. Dunia seakan runtuh. Kepala dibebani pikiran; "apakah aku ditakdirkan hidup sendiri?" Hubungan penuh romansa dalam kurun waktu satu tahun itu memang telah usai. Meski merasa berat, harus ada yang diambil manfaat. Bukan dalam artian kebrengsekan laki2 itu pun berguna. Bukan. Tapi menjadi berguna ketika aku mengolah kebrengsekan itu menjadi hal yang menambah kualitas diri. Lalu. Apakah dengan mengolah itu kemudian si lelaki bisa seenaknya bilang; "tuh kan, penghianatanku pun berguna buatmu". Tentu tidak. Lelaki itu tak ada andil sedikitpun dalam kebermanfaatan perilaku buruknya. Ia hanya menyumbang suatu yang buruk. Selesai di situ.

Di tahap ini, pencarian jati diri sungguh masih berlangsung. Banyak waktuku untung kembali berkaca pada diri sendiri. Bertanya lagi tentang "apa pentingnya kamu hidup, Rul?". Maka banyak waktu kupakai untuk pergi jauh. Ke Ciletuh bersama Aleut, pernah kucatat kan dalam satu tulisan. Memacu motor dengan jarak yang begitu jauh. Jika mengenang Ciletuh, aku tak akan lupa pagi itu. Aku, Tegar, dan Agus saling diam di bibir pantai. Memandang jauh. Hanyut di pikiran masing2.

Perjalanan lainnya adalah Bogor. Memang tak seheroik Ciletuh yang harus kutembus dengan motor. Bogor kala itu adalah pertaruhan keberuntungan. Setelah mendapat panggilan interview di LIPI, aku putuskan untuk berkeliling kota itu sendiri. Tujuannya satu; kebun raya bogor. Berjam jam lamanya aku berkeliling. Bertegur sapa dengan orang2 baru. Berbincang dengan pegawai di sana. Bahkan diajak ke beberapa tempat yang sedang diteliti. Orang2 di sana baik. Aku pun tak paham. Aku suka bertemu orang asing dan terlibat obrolan panjang. Padahal bertemu dengan banyak orang, bagiku cukup melelahkan. Di Bogor kala itu aku duduk di seberang istana Bogor. Merenung. Aku menjadi lebih mengenal aku.

Terkadang dalam perjalanan, kita bukan berfokus pada tujuan. Tidak ada jalanan manapun yang ditaklukkan. Justru penaklukan terbesar adalah pada diri sendiri. Seperti saat aku dan Aleut mencoba lagi menembus Dewata, kebun teh di kawasan selatan Bandung. Dewata menaklukkan rasa takut. Puluhan kilo jalan makadam dilewati dengan sabar. Meski tangan gemetar setiap kali memacu tuas gas. Meski hujan sepanjang jalan. Meski malam telah larut dan kami masih berjalan di tengah hutan. Aku ingat abang bilang; "kamu kuat Nur!". Dan lagi, aku menemukan pembuktian itu. Ternyata kamu cukup kuat, Rul.

Dari sekian banyak perjalanan. Sekian jauh jarak tempuh. Satu momen di umur 28 ini akan kuceritakan pada anak cucuku nanti. Perjalanan ini adalah impian. Sebuah hasrat yang lama terpendam; Bandung-Jogja motoran. Meskipun realisasinya bukan Bandung ke Jogja, tapi sebaliknya. Arus balik lebaran 2018, dengan kawan Aleut yang menjemput ke rumah, sungguh perjalanan 3 hari dari Jogja ke Bandung yang melewati sekian banyak batas kota itu mematrikan satu hal di diriku; segalanya mungkin!

Ada perbedaan ketika kita melakukan perjalanan sendiri dan bersama orang lain. Aku suka keduanya, dengan catatan ketika dilakukan bersama orang lain, orang2 itu memang benar2 orang yang bisa diajak kompromi tentang apapun. Tidak rewel dengan keadaan, makanan, dan lain sebagainya. Dengan kawan2 Aleut selalu bisa dikompromikan. Tipe perjalanan yang kadangkala spontan dan menyenangkan. Tersesat pun kami gembira. Karena justru menemukan banyak hal baru. Tapi bukan berarti; perjalanan tak perlu persiapan karena tersesat adalah berkah. Persiapan, penguasaan kawasan, pemetaan, itu penting. Itu yang aku coba terapkan ketika seorang diri pergi ke Lombok. Hampir sebulan sebelumnya aku membuat riset kecil2an tentang Lombok yang mungkin bisa aku pakai. Dalam riset itu aku abaikan faktor ketenaran. Semisal tempat apa saja yang sedang hits. Destinasi mana saja yang harus dikunjungi. Aku tak mau punya perjalanan yang sama dengan orang lain. Maka riset itu kumulai dengan google map, bukan mengetikkan 10 tempat yang harus dikunjungi bla bla bla di google searcg enginee. Pernah aku catatkan beberapa. Meskipun soal pencatatan ini aku belum disiplin. Di Lombok kala itu aku kembali menemukan diriku yang lain; tangguh. Aku bisa mandi da tidur di masjid, aku bisa keliling mataram seorang diri, aku bisa ngobrol lama di musala museum NTB bersama bapak2 pekerja di sana, aku bisa makan roti djitsin yang melegenda itu meskipun ternyata tokonya kecil. Aku suka perjalananku di Lombok yang meskipun hanya 2 hari sendiri, karena 2 hari berikutnya aku sudah bergabung dengan keluargaku yang juga sedang di sana. Aku akan rindu duduk ngampar di bandara Praya. Tidur bersandar di ransel 30L sambil menunggu waktu checkin tiba.

Sampai di sini, aku merasa hidupku sudah sejauh itu.

Satu lagi tentang tipe perjalanan yang aku coba. Ikut open trip. Jauh dari kriteriaku, memamg. Karena open trip biasanya terpaku pada tempat2 yang sedang digandrungi. Terikat jadwal ketat yang membosankan. Tapi, kali ini berbeda. Opentrip ini adalah wujud lain dari hunting bersama. Kami, ke Baduy. Lagi2 kulibatkan Imam dalam hal ini. Bersama 2 kawan Aleut lain, dan teman2 baru lain. Di Baduy aku merasa tenang. Tanpa ancaman apapun. Waktu berjalan lambat. Aku suka ketika handphone kehilangan sinyal. Tak ada "kewajiban" untuk mengabarkan atau menerima kabar. Di sana, aku hidup dengan diriku. Aku banyak melihat kesungguhan menyatu dengan alam. Berbeda dengan konsep kembali ke alam yang digembor2kan kelompok2 orang tertentu itu. Beda. Untuk orang yang pernah punya keinginan ke Baduy, bisa sampai di sana sungguh menyenangkan. Terlebih, memotret kehidupannya, mencetaknya, dan membukanya sesekali untuk kembali diresapi. Aku akan kembali lain kali.

Tapi hidup tak melulu soal perjalanan. Memahami diri sendiri pun banyak caranya. Termasuk dengan berbagi. Meski bukan tergolong mahasiswa ber IPK 4, tapi membagi ilmu yang ku tahu lewat Biotour, kelas teh dengan Oza Sadewo, atau bincang herbal dengan pengunjung Gedung Sate pun menjadikan satu refleksi; bahwa sekecil apapun itu, kita bisa saling memberi. Aku suka.

Sebelum menutup usia 28, sekaligus menutup tulisan ini. Satu keputusan besar telah diambil. Resign. Memang bukan perkara mudah untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kenyamanan ini mematikan. Bahwa ketika sebuah peluang datang, hanya ada dua pilihan; now or never. Maka peluang itu kuambil. Bukan karena menyerah dengan apa yang ku kerjakan sekarang. Tapi peluang baru itu seolah berbicara; this is your time.

Am I doing something right?

Kata Iwan, kawan saya; lakukan saja, maju terus. Sampai nanti ketemu salahnya.

Ya, usia 28 tahunku banyak kejutan. Banyak hal menyenangkan terjadi. Banyak keputusan besar diambil. Banyak harapan yang pupus. Aku tak menyesal dengan hal yang menyedihkan. Aku bersyukur dengan hal yang membahagiakan. Akan ada langkah lebih jauh lagi. Akan ada peluang lebih besar lagi. Akan ada orang baru yang lebih menyayangi. Tapi juga bisa jadi, tahun depan aku mati.

NFR

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe