Bapak dan teman-temannya.

December 08, 2018

Bapakku. Iya, sosok yang diam itu, tak kusangka banyak juga yang senang berteman dengannya. Sebut saja, Pak Ratmi temannya dari awal bekerja yang selalu menyempatkan mampir ketika berada di daerah dekat rumah. Dengannya, Bapak akan betah mengobrol di teras. Sambil menyuguhkan hidangan seadanya ditambah teh manis anget. Kebiasaan orang Jawa yang berkebalikan dengan Sunda. Konon karena di Sunda tidak ada lahan tebu, jadi teh yang disajikan tawar.

Bapak jarang bercerita soal temannya. Kecuali menyangkut sebuah peristiwa. Pernah pada satu malam, kami yang sedang malas-malasan, duduk di depan teve menonton Kick Andy. Iya, acara kesayangan Bapak selain Mata Najwa. Bapak bisa saja berteriak memanggilku ketika acara Kick Andy sedang tayang. "Dek, Kick Andynya bagus nih. Ada orang keliling Indonesia pakai sepeda" paparnya padaku yang biasanya sedang di kamar. Kamarku dengan ruang tengah dibatasi ruang makan, jadi suara itu cukup lantang untuk bisa didengar. "Temen Bapak ada Dek yang dulu dari Mangiran ke Semarang naik sepeda. Mas Ramijo, yang rumahnya belakang rumahnya simbah itu. Sering dia bolak balik Mangiran-Semarang" kenangnya.

Berbeda lagi soal teman sekolah. Bapak merawatnya dengan sangat apik lewat reuni yang rutin didatangi. Bapak bersekolah di SMP dan SMA swasta yang masih dalam satu yayasan. Jadi, pertemanan mereka terjalin cukup lama dan erat. Sebut saja Pak Jundi, nama yang cukup sering Bapak ceritakan. Lainnya, aku tak terlalu mengingat karena hanya sesekali ke rumah. Mereka akan lebih sering berkumpul mengunjungi sekolah, atau bergilir dari satu rumah ke rumah lainnya.

Pembuktian dari pertemanan yang Bapak rawat itu tiba di awal tahun 2015. Ketika Bapak dan kawan-kawannya bertandang ke Purwokerto untuk menghadiri walimah sekaligus reuni. Kata Ibu, Bapak pamit dengan tak biasa. Ia menatap lama rumah ketika beranjak pergi. Melambaikan tangan pada Ibu. Yang ternyata untuk terakhir kali.

"Udah, yang tenang ya. Bapakmu udah perjalanan pulang." Pak Jundi mengabarkan. Ia bersama teman-teman bapak yang mengurus jenazah. Mulai dari membawa ke RS Purwokerto, memandikan jenazah, mengafani, dan mengantarkan pulang. Kurasa pertemanan mereka abadi.

"Bapakmu itu ya, baru jalan mau salat zuhur di masjid (Purwokerto). Persis di depanku. Baru selesai acara mantenannya. Pas jalan mau mengambil air wudhu, tiba-tiba jatuh. Pas dicek udah meninggal. Cepet banget." Cerita teman-teman Bapak saling bersahutan. Mereka berbondong ke rumah menyampaikan duka.

"Bapakmu itu manja. Mau mati juga masih mau bareng teman-temannya..." Kata Pak Bandi yang menjabat tanganku sangat erat. Ia mengenang untuk menguatkan.

Satu siang, rekan kerjaku bercerita kalau ia akan ke Jogja. Menghadiri acara dilad di sekolahnya. Sekolah yang sama dengan sekolah tempat bapakku bertemu dan mengenal teman-temannya.

Pak, Mualimin tahun ini milad satu abad. Teman-teman bapak mungkin sedang berkumpul, bertukar cerita, mengenang banyak perkara. Aku bayangkan kau hadir di antaranya. Dengan tawamu dan ceritamu yang kadang mencoba bercanda.

Satu lagi, Pak.
Aku rindu.

(NFR)

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe