Lo Gue; simbol pergaulan kah?

November 28, 2018


Ada satu kawan yang masuk ke ruang kerja kami dengan muka sebal. Dia menggerutu sambil sedikit mengata-ngatai karyawan baru yang menurutnya terlalu belagu. "Itu si anak baru, ngomongnya Lo Gue gitu, sok banget lah", tuturnya. Sontak kesan pertama mereka terhadap karyawan baru tadi menghasilkan nilai minus. Segenap penilaian "sok" tersemat kepadanya. Terhakimi begitu saja. Kasihan.

Bukan. Kata kasihan itu lebih tepat ditujukan pada segenap orang yang melakukan penilaian, yang lantas ikut menyumbang suara. Hebatnya, tanpa mengobrol dengan tokoh utama pun, mereka seakan-akan sudah kenal lama sehingga kegiatan menilai itu berlanjut lebih detil dan lebih lama. Apa yang salah dengan penyebutan Lo Gue? Bukankah itu sama saja dengan Kamu Aku dan padanan lainnya?

Dalam berbahasa, selain memandang pada makna, orang akan menilai rasa. Seperti di Jawa yang mengenal undak usuk bahasa, bahasa Indonesia pun menurut saya juga memiliki tatanan rasa. Sebut saja, kepada orang ke tiga yang lebih tua akan lebih baik menggunakan kata beliau dibandingkan dia. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengatakan penggunaan beliau ditujukan untuk menghormati, tapi tidak berarti juga penggunaan kata dia akan bermaksud melecehkan. Hal lain yang banyak orang tidak sadari adalah masalah panggilan orang tua. Sedari kecil saya memanggil orang tua saya; bapak dan ibu. Waktu SD, sebagian besar teman-teman saya memanggil kedua orang tuanya; bapak dan mamak. Beberapa; bapak dan simbok. Bagi lingkup SD saya yang berlokasi di pedesaan, panggilan ibu dirasa mewah. Ada derajat lebih tinggi dibanding panggilan mamak dan simbok. Padahal, semua definisi tadi mengarah ke hal yang sama; perempuan yang melahirkan kita atau sosok orang tua perempuan kita. Saya masih ingat bagaimana orang-orang sekitar membicarakan anak tetangga yang memanggil orang tua perempuannya; mama.

Lalu, apakah bahasa Lo Gue juga termasuk dalam undak usuk bahasa tadi? Jelas tidak. Irisan dari keduanya adalah soal rasa. Orang pedesaan merasa asing dengan kata mama. Begitu pula kejadiannya dengan kawan-kawan saya tadi yang asing dengan panggilan Lo Gue. Panggilan yang dirasa sangat kota dan menggambarkan tingkat pergaulan yang tinggi itu sangat asing di telinga. Meskipun pronominal tersebut baku menurut KBBI setara dengan Anda dan Saya.

Jadi, Lo Gue tidak merujuk pada symbol pergaulan. Kata tersebut justru sangat lumrah dipakai oleh orang Betawi, pun orang Lampung apapun latar belakang dirinya; desa atau kota. Termasuk kawan baru saya yang sudah dinilai minus oleh sebagian orang tadi yang ternyata adalah orang Lampung. Untuk hal itu saya tak harus bertanya, sekadar mendengar kefasihannya mengucap kata "geh" dalam dialognya membuat Lo Gue yang diucapnya menjadi semakin wajar dan biasa saja.

Penilaian lain datang dari kenyamanan pengucapan. Kamu Aku terdiri dari dua kata, begitu pula Anda dan Saya. Berbeda dengan Lo Gue yang pengucapannya hanya butuh satu kali mulut terbuka sehingga dirasa lebih ringkas. Lebih mudah diucapkan dengan rangkaian percakapan sehari-hari. Bijaknya, tak usah menyoal tingkat pergaulan dalam menggunakan Lo Gue, lihat saja lingkup kita berbicara. Misal saja, keselarasan. Akan menjadi aneh ketika Lo Gue hadir di antara bahasa Sunda menggantikan Maneh dan Aing. 

“Ceuk Gue mah, teu nanaon…”

Semakin dirasa asing, bukan? Memang akan susah untuk mengubah anggapan khalayak yang sudah melabeli Lo Gue sebagai simbol strata pergaulan tertentu. Menurut Lo gimana?

(NFR)

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe