Hiduplah dengan sadar dan nyata, kawan.

November 15, 2018


Aku pernah menjadi liar ketika ujian semester selesai. Kampus kami yang diletakkan di lereng merapi otomatis jauh dari hingar kota Jogja. Maka pada momen2 usai ujian semester, kami melampiaskan dengan turun gunung dan bersenang senang. Seolah terlepas dari penjara. Seolah terlepas dari situasi ketidakberdayaan. Seolah keseharian bukan hal yang menyenangkan. Ya, kami nonton, makan di resto cepat saji milik kolonel amerika, atau pizza bertopi, karaoke, dan sejenis kesenangan lainnya.

Tak salah, memang. Memuaskan diri setelah menahan diri. Tapi kok ya, semakin ke sini, semakin merasa hal semacam itu hanya sekadar mengukuhkan eksistensi. Merasa hebat bisa keluar bersama dengan banyak kawan. Merasa modern ketika mengelilingi meja yang di tengahnya tersaji pizza dan jenis makanan lainnya.

Apresiasi berlebihan terhadap usaha diri sendiri semacam itu semakin terlihat nyata ketika masuk dunia kerja. Betapa mudahnya orang menghamburkan rupiahnya dengan alasan tanggal muda. Sekali lagi, tak salah, memang. Standar gaya hidup tiap orang berbeda.

Pagi ini saya telat bangun. Pukul 10 baru benar benar bisa membuka mata. Dibangunkan suara sendal beradu dengan lantai oleh kaki kaki yang menuruni tangga. Aku benci sekali dengan hal ini, lain kali kutuliskan ceritanya. Pagi ini orang orang di mess ini mendadak sibuk pergi bergerombol. Percakapan yang terdengar sekilas; ada yang akan mengunjungi salah satu mall di Bandung. Ada yang akan tes CPNS. Ada yang akan ke tempat wisata. Sesaat kemudian, saya baru ingat kalau ini tanggal muda. Lalu terputarlah kembali ingatan tentang ritual setelah berakhirnya ujian smester. Semuanya semacam pengulangan. Tanggal muda menjadi pelampiasan setelah sebulan bekerja. Iya, sah sah saja.

Spotify di laptop masih memutar petikan gitar Gerald Situmorang. Sambil menunggu air di teko listrik mendidih, kopi yang sudah digiling itu kumasukkan dalam poci kecil. Aku tak punya alat seduh layaknya pencinta kopi. Tunggu, aku memang bukan pencinta kopi. Yang kutahu, menyeduh kopi itu hanya perlu kopi, gelas, dan air panas. Gula kalau perlu, tapi kali ini aku pakai susu.

Banyak cara untuk memuaskan diri versi saya, terlebih beberapa tahun belakangan. Akhir pekan setelah gajian kali ini saya cukup puas dengan sudut kamar tidur saya. Duduk bersandarkan bantal. Diiringi petikan Raining Flowersnya Gerald Situmorang. Ada secangkir kopi susu seduhan sendiri. Ada sepiring pasta berbumbu seadanya. Hei, aku cukup cakap memasak pasta. Mi eropa itu lebih kugemari teksturnya dibanding mi cina. Lalu, ada buku pinjaman yang belum juga selesai dibaca. Ditambah, mes yang sepi dan sesaat kemudian hujan turun di Cimahi. Ah, bahagia. Kenyamanan cafe manapun tak bisa menandingi.

Rasanya, sudah lama saya tinggalkan jauh2 yang namanya eksistensi yang seringnya hanya mengada ada keberadaan. Meski menjadi terkesan tak punya teman, tapi aku justru lebih suka. Bercakap serius dengan satu dua orang saja. Tak perlu sibuk menyenangkan banyak sahabat. Yah, eksistensi. Contoh saja, orang asyik berkumpul di cafe, saksikan saja sesaat setelah mereka datang dan sesaat setelah pesanan datang. Berapa lama obrolan mereka bertahan. Lagi, kukatakan; tak salah, memang.

Lalu, apa maumu Rul?
Nggak. Aku hanya merasa lucu memutar ingatan bahwa apa yang kubicarakan di atas, hal yang seolah salah menurutku, itupun pernah terjadi dalam hidupku. Jadi, ya tak salah, memang. Berproseslah. Mendewasalah.

Ditulis di awal November 2018
(NFR)

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe