Deep conversation, with my self.

October 31, 2018

Suara Leilani melengking merdu lewat ear phone. Sudah dua kali lagu yang sama terputar; Arah. Lagu yang di dalamnya terkandung lirik magis; genggamkan lelahku di tangan-Mu.

Tuhan, betapa wahainya frasa itu.

Ternyata, malam sehabis hujan dengan sisa bau tanah yang samar berhasil sejenak mengosongkan pikiran. Lelah. Manusia yang katanya sekadar menjalani sederetan rencanaNya tanpa perlu membuat lajur hidupnya sendiri, tetap saja ikut campur urusan Tuhan.

Apa yang akan terjadi?

Ngapain lagi?

Ke mana lagi?

Hilang arah memang, rasanya. Ketika meskipun belum semua keinginan hidup terpuaskan, tapi hidup berjalan seakan statis tanpa perubahan. No. Im not enjoying my comfort zone. I wish. Tapi sungguh zona nyaman ini brengsek sekali. Rasanya mati. There's no something that make my heart beating harder; adrenalin menjalari arteri. Rasanya sudah lama sekali tidak. Mengakulah, kamu terperosok di kenyamanan Rul. Wake up!

But I love this town. Truly deeply, I love Bandung. Haruskah berpindah?

Genggamkan lelahku, di tanganMu...

Mari berbicara cinta. Ketika obrolan di sekitar telah berganti topik menjadi berapa harga popok, pilihan KB apa yang nggak bikin gendut, atau sekadar pengiasan aktifitas sex menjadi "sunnah rosul", sedangkan pagi kemarin aku masih sibuk riset gimana caraya dari Bandung bisa ke Lasem. Ya, Im a 28y.o single woman, and this is not easy in my country.

Sudahlah, jangan membesarkan hati dengan ungkapan ungkapan sejenis; nggak papa, nanti juga datang sendiri jodohnya. Sungguh, aku teramat percaya dengan petuah itu. Aku percaya Tuhan mencipta manusia berpasangan. Aku percaya jodoh itu sudah ditetapkan. Aku percaya. Tapi sayangnya, orang di sekitar merunyamkan keadaan dengan meracau timeline Tuhan. Menganggap seragam semua tahapan hidup manusia. Membuat idealisme dalam takaran kuantitas. Padahal ranahnya berbeda. Sehingga itulah yang membuat sepenggal frasa dari Lani seakan mewakili banyak rasa. Mewakili kelelahan dari pergulatan pikiran berpedoman timeline Tuhan yang diracau; "Kapan nikah?" "Calonnya orang mana?"

Im not saying that im not gonna get merried. Absolutely, i want. Everyone deserve to get married. But please, biarkan perempuan 28 tahun yang masih sendiri ini menjalani hidupnya. Tidak mudah untuk menahan gairah sex. Tidak mudah untuk menahan keinginan mengelus perut ketika hamil. Tidak mudah menahan keinginan untuk menimang anak, dipanggil mama. Atau yang sederhana saja, tidak mudah untuk meredam keinginan bersandar di bahu laki laki ketika hidup terasa melelahkan.



Please. Stop nanya "Kapan nikah?" karena tanpa diingetinpun, gue nggak lupa!

You Might Also Like

1 komentar

  1. Tujuan hidup bukan hanya menikah. Tapi menikah itu ibadah.
    Kita tau kok. Kita juga ingin menikah.
    Doakan saja semoga menemukan jalannya. Tak perlu ribet bertanya, atau malah dijadikan basa basi semata.

    ReplyDelete

Subscribe