Pantai tak Instagramable di Lombok yang sangat humble; Menjejak Sasak bagian 2

July 25, 2018

07.55 waktu Praya. Aku punya dua hari untuk sendiri menjelajah kota ini. Inginnya berjalan kaki seperti yang sering aku lakukan di Bandung. Tapi Praya menuju pusat kota Mataram tak mungkin ditempuh dengaan cara itu. Maka malam sebelumnya, telah tersewa sebuah motor matic 110CC dengan tarif 75ribu per 24 jam. Ya, meskipun kata orang Lombok itu kemahalan.

Tiga kali motor itu dipacu mengeliligi bandara. Bukan, bukan karena bingung jalan ke luar lewt mana. Tapi bandara ini asri meski tumbuhannya banyak yang sedang meranggas. Berbeda dengan Adisucipto, Sukarno Hatta, Ngurah Rai, atau Husein Sastranegara. Mungkin karena masih baru sehingga belum semua lahan terisi sesuai maket yang direncanakan.

Oya, meskipun ada saja rasa bahwa berwisata semacam ini harus lekat dengan ke luar dari zona nyaman, tapi urusan kebersihan badan harus juga diperhatikan. Jangan sungkan untuk mandi di masjid, pom bensin, atau stasiun. Dengan catatan, perhatikan keamanannya. Untuk kawasan bandara di Praya, ada satu masjid dengan toilet bersih dan aman untuk mandi.

Itinarary memang penting, kawan. Untuk tahu ada apa saja di sebuah kota. Tapi apalah itu ketika kamu justru menjadi terpatok harus ke sana sini memuaskan itinarary. Memang banyak tempat penting menurut tripadvisor, dari mulai laut hingga curug. Tapi jujur bukan itu yang kukejar. Maka jangan lanjutkan membaca jika kita tak satu tujuan.

Edan memang, pagi itu langit sedang cantik-cantiknya. Biru. Sangat kontras dengan gumpalan awan yang putih bergerumul, perbukitan hijau yang jadi latar belakang, dan hamparan sawah dengan padi yang menguning. Sepanjang jalan, banyak sekali perempuan-perempuan lombok, tua muda yang mengenakan bawahan kain batik khas. Beberapa sedang “membawa” kayu bakar, atau kuali yang disangga di kepalanya. Ah, suka!

Ada satu petunjuk arah menuju pantai. Tanpa pikir panjang, motor itu kubawa berbelok mengikuti jalanan. Hingga akhirnya jalan aspal berubah menjadi sedikit berpasir. Tidak ada retribusi memasuki kawasan pantai. Bahkan tempat parkir pun tak tersedia. Ada satu ibu yang sedang menjaga anaknya yang bermain di pasir. Kami mencoba berbincang tentang apa saja. Darinya aku tahu kalau gelombang sedang cukup tinggi. Pelaut memrkir perahunya. Perbincangan dengan ibu tadi tak cukup lancar. Beberapa kali kami salah paham meskipun obrolan masih berlanjut. Di kejauhan, tepatnya di dermaga yang mengarah ke lautan, beberapa orang terlihat memancing. Kudekati mereka. Tak ada hal penting yang kulakukan. Hanya duduk bersama, mendengarkan mereka bercerita, dan sesekali giliranku becerita.

“Ayo, Side ke rumah bapak saja biar dimasakin istri bapak...”

Adakah yang bisa ku tolak? Bermodal obrolan, tawaran semahal itu terlontar begitu saja. Bayangkan, kamu yang baru mendarat di Praya, belum sarapan, ditawari makan siang ikan hasil tangkapan, di rumah pelaut di pinggir pantai.


Rumah itu ternyata tepat di pinggir pantai di sisi dermaga. Bagian depannya berfungsi sebagai warung menjual nasi dan jajanan lainnya. Seorang ibu paruh baya ke luar. Pelaut tadi berbicara dalam bahasa Sasak yang tak kumengerti sambil menyerahkan ember ikan tangkapannya. Kukira pelaut tadi mengenalkan siapa aku, karena setelahnya istrinya mengajakku ke dapur. Tak perlu talenan, bumbu-bumbu itu diiris langsung di tangan. Ikan hasil tangkapan digoreng kering kemudian dihancurkan. Dicampur bumbu kelapa yang gurih sekali rasanya. Sepiring penuh, istri pelaut itu menyodorkan padaku. Nasi lengkap dengan lauknya. Nasi balap. Begitu istilahnya untuk seporsi nasi rames lengkap. Yang menjadi khas dari masakan lombok adalah terasinya. Sambal mentah campuran dari bawang merah, bawang putih, cabai, tomat dan terasi itu cocok sekali dicampur dengan rebusan kangkung atau irisan kacang panjang mentah. Terlebih, disantap bersama di pinggir pantai. Sungguh aduhai!

Ada rasa yang tak terdeskripsikan ketika aku berpamitan. Bagi pasangan suami istri itu mungkin aku sebatas orang asing yang datang dan mereka jamu dengan makan siang, tapi bagiku bisa berinteraksi dengan mereka saja sudah pelajaran tersendiri. Terlebih membaur dengan kehidupannya meski tak sampai sehari.

Perjalanan berlanjut menyusuri pantai. Kata pelaut, di sepanjang baypass menuju Mataram banyak pantai yang sudah dibuka untuk umum. Tidak seperti pantai dengan dermaga di depan rumahnya yang jarang dikunjungi. Memang benar, di berbagai tempat terparkir mobil-mobil wisatawan. Sebut saja kawasan pantai Gading, Loang Baloq, dan Tanjung Karang. Pantai di kawasan lingkar selatan itu terlihat ramai. Di sepanjang jalannya banyak penjaja ikan segar yang telah dibakar tanpa bumbu. Pembeli tinggal mengolahnya menjadi masakan sesuai selera.

Di antara pantai-pantai yang ramai itu, ada satu jalan berbelok mengarah ke sisi pantai yang lain. Ada beberapa gazebo kosong dan satu warung yang terlihat tidak ada aktivitasnya. Parkiran motor pun luas dan tidak terisi. Seorang ibu menghampiri dengan senyum dan bertutur dengan bahasanya yang hanya kujawab dengan “Nggih…”. Kata untuk mengiyakan yang sama persis dengan bahasa Jawa. Setelahnya, ku ajak dia bercakap dalam bahasa Indonesia.

“Ada kopi, Bu?”
ringan saja mulut ini berujar pada Ibu di satu-satunya warung di sana. Sebuah awal obrolan yang telah teruji efektif setiap kali singgah di daerah baru.

Di Jawa, se-kaya kayanya seseorang adalah dia yang memiliki berhektar-hektar sawah. Di Gunung Kidul, seseorang bisa saja memiliki bukit atau goa. Di Lombok, seseorang bisa memiliki pantai bahkan teluk!

“Dari jalan depan sana sampai rumah hijau itu punya keluarga Ibu? Berarti pantai ini punya Ibu?”
Duh. Ini kebodohan untuk bertanya dengan muka setakjub waktu itu. Tapi sungguh, memiliki pantai adalah sebuah kekayaan yang kaya! Pantai woi! Untungnya si Ibu tetap bersikap wajar saja. Dia justru bercerita kalau dia dan suami mengumpulkan anak-anak gelandangan untuk diajak hidup dan berkarya bersama. Usaha kaos Lombok. Ya, kaos-kaos yang bertuliskan I love Lombok dan sejenisnya.

Bagi Ibu itu, cerita tentang Jawa sangat menarik. Meskipun ceritaku bercampur aduk antara Jogja dan Bandung, mata beliau sungguh berbinar. Kuperlihatkan foto-foto seputaran Braga, alun-alun Bandung, persawahan di samping rumahku di Bantul, bahkan mesin di ruang produksi tempatku bekerja. Berbincang dengan orang tua memang menyenangkan. Banyak pula cerita pengalaman hidup yang kudapat. Bahwa hidup memang untuk berbagi. Sekecil apapun.

Seruputan kopi terakhirku terasa berat. Masih ingin singgah tapi sungguh waktu tak bisa duduk diam. Mataram masih jauh…

Tips:
  1. Kalau nggak mau sewa motor, dari bandara Internasional Lombok ada Damri yang bisa membawa kamu ke Mataram dengan ongkos 30ribu. Nah, di Mataram kamu bisa mengandalkan ojek online.
  2. Orang-orang Lombok sangat ramah. Tapi beberapa sangat terkendala dalam bahasa Indonesia. Meskipun tahu bahasa Indonesia, tapi tak jarang masih ada salah paham tentang maksud pembicaraan yang akan kita sampaikan.
 [NF]


You Might Also Like

0 komentar

Subscribe