Dari Bandung ke Soekarno Hatta; Menjejak Sasak bagian 1

July 12, 2018


Apa ketakutan terbesarku? Sendirian. Meskipun tidak menyukai keramaian, sendiri adalah ancaman. Meskipun hakikat manusia adalah sendiri, tapi tetap saja sendiri itu...

Booked! Tiba tiba saja. Tiket pesawat telah dipesan dan dibayar. Setelahnya, aku baru berpikir. Lombok itu jauh. Dan rabu sepulang kerja, aku menuju ke sana. X Trans pukul 23.03 yang membawaku menuju soekarno hatta, ditebus dengan harga 145 ribu. Sebanding dengan lihainya sopir memutar kemudi dan sebotol air mineral. Hanya butuh empat jam untuk sampai di terminal 1A untuk penerbangan domestik.

Aku heran dengan orang orang jaman sekarang yang berpenampilan modern. Segalanya ingin dikenakan. Ibu ibu mengantre check in dengan lima jari terpasang cincin. Ibu lainnya berpakaian gamis panjang motif bunga-bunga menjuntai menyapu lantai. Keanehan yang paling mencolok adalah barang bawaan. Banyak dari para pengantre check in itu yang kerepotan membawa berkotak-kotak kardus. Hingga sesekali troli mereka mendorong kakiku. Aku yang hanya bertas ransel 30L dan daypack tempat kamera merasa terintimidasi. Seolah olah mereka yang membawa barang banyak lebih layak didahulukan. Lihat saja cara mereka menyerobot antrean, seolah matanya berkaca kaca dengan lontaran kalimat "Nak, udah mah ibu gendong anak, bawa koper, bawa kardus pula. Boleh duluan yaaa..."

Wadesiiiiinggggg...

Aku kasih saran deh buat yang akan bepergian jauh dengan banyak oleh-oleh untuk saudara dll. Paketin! Itu udah yang paling bener. Meski bagasi menyediakan 20kg space untuk kita, tapi kurasa dengan memaketkan oleh-oleh atau semacamnya itu lebih memudahkan perjalanan. Itu yang kulakukan tiap mudik lebaran. Semua oleh-oleh dipaketkan jauh-jauh hari. Jadi ketika perjalanan, badan tak kerepotan mengatur bawaan. Perjalanan lebih mudah untuk dinikmati, bukan?

Proses check in sebenarnya dapat dilakukan secara daring meskipun pada akhirnya kita harus pula mengantre untuk mencetak boarding pass (untuk beberapa maskapai masih berlaku boarding pass fisik). Tapi dengan check in online, kita bisa memilih tempat duduk. Itu saja sih. Berbeda dengan proses check in kereta yang sekarang tinggal menunjukkan e tiket saja. Ah, teknologi. Serasa mudah sekali hidup ini.

Ruang tunggu gate 6A itu cukup luas. Sarana public seperti tempat sampah dan kursi tunggu kurasa cukup memadai.  Di beberapa kursi tunggu juga sudah dilengkapi colokan listrik. Untuk orang yang suka ketinggalan charger seperti saya pun sudah disediakan di beberapa lokasi. Meskipun jumlah kursi cukup memadai, tetap saja kesulitan menemukan tempat duduk yang nyaman. Dalam artian, kita bisa duduk dengan santai dan melakukan hal wajar yang kita inginkan tanpa khawatir mengganggu atau diganggu. Realitanya, banyak orang-orang yang menggunakan kursi tunggu untuk tidur dalam posisi tidur, atau meletakkan barang bawaan di atas kursi. Lah, emang salah? Kan kosong? Well, menurut aku sih nggak seharusnya aja. Orang akan menjadi sungkan untuk duduk. Jadilah ada yang duduk di lantai, atau malah berdiri. Untuk yang memahami, kursi memang seharusnya hanya untuk meletakkan pantat. Sedangkan barang bawaan bisa ditaruh di bawah. Kalaupun menghendaki tidur, kita bisa duduk dengan posisi agak nggelosor sehingga kepala bisa tersandar di sandaran kursi.


Sesaat kemudian suara mbak-mbak yang terdengar sangat SOP itu memanggil para penumpang untuk masuk pesawat. So, sendiri meninggalkan kota ini. Meninggalkan pulau ini. Sendiri menjadi tolok ukur. Sampai mana sih. Berani nggak sih. Bisa nggak sih. Dan pada akhirnya, kita dapat jujur karena tahu kekuatan diri sendiri. Menyenangkan loh!

Note:

1. Ada beberapa alternative dari Bandung menuju Soeta, yang saya pakai adalah X-Trans. Jadwal dan tiket bisa dibooking melalui tiketux(dot)com.
2. Saya sarankan mengambil penerbangan subuh, sehinnga waktu lebih efektif karena sampai Lombok masih pagi. Kita bisa mengunjungi lebih banyak tempat.
3. Saya sarankan untuk check in online supaya dapat tempat duduk yang disukai. Kalau saya paling suka dekat jendela. Oya, tempat duduk untuk kelas ekonomi itu satu deret 6 seat yang dipisah menjadi dua. Inget urutannya ya, dekat jendela adalah A dan F. Saya suka berdebat masalah ini dengan penumpang lain yang mengambil tempat duduk saya karena ingin dekat jendela.



You Might Also Like

0 komentar

Subscribe