Kepada yang asing; jangan kau jatuh cinta begitu saja.

May 20, 2018


Aku membuka mata. Seorang lelaki di sampingku masih terlelap. Tarikan nafasnya teratur. Cukup lama aku menatap wajahnya. Garis muka yang tegas. Kedua matanya. Ah, dia punya sorot mata yang tajam. Seakan menginterogasi setiap kata ketika kami bicara. Tangannya masih menggenggam tangan kiriku. Hangat. Entah dari mana, kudapatkan rasa aman berada di sampingnya pagi itu.

Kamar itu cukup luas. Ada tumpukan buku di satu sudut mejanya. Beberapa karya Murakami, Paulo Coelho, ada juga milik Sapardi. Selebihnya buku tentang fotografi. Satu tas carrier 45L tergantung di satu sisi dinding. Mengingatkanku pada kakakku yang hobi sekali naik gunung. Mungkin kalau lelaki di sampingku bertemu dengan kakakku, mereka akan punya obrolan yang seru.

Aku mengenal namanya sejak lama. Lewat perkumpulan pehobi foto di sebuah jejaring sosial media. Hanya nama. Tak ada obrolan atau hal lainnya. Tapi di satu sore, aku bisa menjabat erat tangannya. Seorang kawan mengajaknya ke sebuah acara yang ada aku di sana. “Hai...” kataku ringan sambil tersenyum.

Lelaki di sampingku masih memejamkan mata. Suara nafasnya masih pada ritme yang sama. Pelan kulepas genggaman tangannya. Beralih tanganku yang memeluknya. Aku bisa merasakan denyut jantungnya. Menghirup aroma tubuhnya. Aku suka. Sama seperti aku suka aroma tubuh ayahku, atau ketika bermaja di ketiak ibuku.

“Wangi tubuh tiap orang tu berbeda. Pernah nonton film parfum?” tuturnya semalam. Dia bilang, ada aroma vanilla di tubuhku. Ia katakan setelah usahanya menenangkan kalutku. Ia kecup kening dan kedua mataku. Tangisku mereda dan aku lelap dalam dekapannya. Ingin sekali kala itu kudengar dia berujar, sudah jangan sedih lagi, ada aku. Tapi tak ada. Tak apa.

Ya, malam itu bermula dari pameran foto di satu galeri di pusat kota. Kami bersama ke sana. Pada perjalanan pulang, kami obrolkan banyak hal. Hingga akhirnya terlontar dariku sebuah cerita. Setelah bertahun-tahun pikiran itu hanya berputar di kepala. Tentang hubungan ibu dan anak yang tak mesra. Tentang jiwa yang seolah terbelah jadi dua. Tentang kegagalan cinta. Tentang ketakutan-ketakutan yang mengendap terlalu lama.

“Pusing. Berisik banget kepalaku. Aku overthingkingnya parah...” kataku. Dia memintaku jujur dengan diri sendiri. Bahwa tidak baik-baik saja itu tak apa. Sejalan dengan kesenanganku berkeliling kota tanpa tujuan, motor itu terus dipacu dengan asal memilih jalan. Malam dengan anginnya yang keras menerpa wajah menjadi semacam tamparan. Atau justru pemantik ingatan lain yang muncul bergantian. Nampaknya bagiku berlaku yang ke dua. Akumulasi banyak peristiwa tiba-tiba muncul. Aku yang begini. Aku yang begitu. Aku yang ini. Aku yang itu. Hingga akhirnya motor itu berhenti di satu jalan dengan bangku-bangku di trotoarnya.

“Udah, nangis aja...” lelaki itu menyeka mataku. Entah apa saja yang ke luar dari mulutku. Aku menjadi semacam diguna-guna untuk mencurahkan semua isi kepala. Percayalah, ini tak mudah. Tapi mulut ini tetap saja bercerita. Meskipun masih saja ada yang tertahan di dalam sana.

Lelaki itu membukakan pintu dan menunda memintaku masuk. Ia perlu membereskan dulu beberapa barang. Kamar itu bercat putih. Satu tempat tidur, lemari, meja yang dipenuhi buku, komputer, dan satu box besar di ujung ruangan yang entah berisi apa. Cukup rapi untuk ukuran kamar lelaki. Asing sekali rasanya. Berdua dengan orang asing di tempat yang asing pula. Beberapa kali pikiranku menyanggah keadaan. Apa yang kamu lakukan...

Tiba-tiba saja alarm dari telepon genggamku berbunyi. Pertanda pukul 5 tepat. Diapun terbangun mendengarnya. Nampaknya tak ada canggung pagi itu. Muka berantakan. Bau badan. Mungkin juga bau mulut. Tapi percakapan tetap mengalir. Kami terlihat biasa saja. Tapi padaku, ada deru lain yang menggebu. Nampaknya, aku mulai menyukai lelaki di sampingku.

Kurasa Tuhan menghukum kelancanganku. Berminggu-minggu setelahnya, aku mengharap setidaknya kabar darinya. Benar aku mulai merindu. Dekapannya, kecupannya, bahkan aroma tubuhnya. Gila. Apa yang terjadi. Hingga saat inipun, sesekali masih saja ingatan tentang wajahnya di pagi itu nyata di depan mata. Ya, mampaknya lelaki itu hanya sekadar menemani tanpa menaruh hati. Pertanyaanku, bagaimana bisa mereka seperti itu. Ah, perempuan. Mudahnya hatimu merasa nyaman.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe