pada sebuah kota

April 10, 2018


“Ya sudah, tunggu saja di sana”.

Pembicaraan telepon itu kemudian berakhir. Perempuan itu masih berpikir panjang. Sedang mendung dengan cepat menutup sebagian langit kota yang masih ingar dengan kehidupannya. Di atas jembatan penyeberangan, persis di titik tengah jalan raya tersibuk seantero kota, perempuan itu tersenyum atas keputusannya. Ia menunggu.

Kota ini sedang menuju petang. Matahari telah condong ke arah barat. Membentuk bayang-bayang yang lebih panjang. Perempuan itu meniti anak tangga, turun perlahan. Melewati kerumunan pedagang emperan dan penjaja makanan. Di tempat yang telah disepakati, ia berhenti. Menyenderkan badan di tembok sebuah restoran cepat saji. Matanya tak berhenti mengamati. Ada seorang ibu yang berjalan sambil mengapit mesra lengan suaminya. Pengamen tuna netra yang banyak dilewatkan begitu saja. Atau sepasang muda mudi yang masing-masing asyik dengan telepon genggamnya.

Tujuh menit sedari telepon berakhir, perempuan itu masih berkutat dengan perdebatan di otaknya. Satu sisi, si otak tak percaya bahwa ia akan bertemu dengan orang yang dikagumi. Sisi lainnya justru tegas meminta untuk tidak terlalu mendramatisasi. Hingga kemelut itu berakhir ketika mata perempuan itu beradu tatap dengan seorang ibu yang duduk di sebelahnya. Mereka bertukar senyum kemudian saling menyapa.

“Subuh, Neng.  Nanti ngisi air panas dulu di belakang pasar sana. Baru keliling.” Jelas si ibu dengan tangan cekatan menggunting kopi sachet, menuang air panas, dan mengaduknya. Meski marak orang bilang “kopi itu digiling bukan digunting”, kenyataannya kopi-kopi instan para pedagang asongan itu mampu menghidupi banyak keluarga. Dari cangkir-cangkir plastik itu pula obrolan yang lebih nyata bisa berlangsung lama. Kopi sachet yang nilainya tak sebanding dengan kopi giling yang tenar dengan berbagai istilah penyeduhan itu justru punya banyak nilai lain yang tak terhitung.

Selayak di warung kopi, mengalirlah obrolan dua perempuan dengan usia jauh berbeda. Perempuan itu bercerita tentang perantauannya. Manakala ia merasa sepi dan sendiri di kota orang. Si ibu berkisah tentang hidupnya sedari muda. Beberapa kali perempuan itu melihat si ibu meraih ujung jilbabnya. Sekadar menahan air mata supaya tak jadi tumpah. Nada suaranya bergetar. Kedua matanya memandang nanar.

Ayeuna mah sorangan, Neng...”

Perempuan itu khidmat mendengar si ibu bertutur. Sedang kepalanya mengawang puluhan tahun ke depan. Ketika kelak dirinyapun menjadi seorang ibu. Mebayangkan empat orang anak yang telah hidup masing-masing. Suami yang pergi. Semuanya tanpa kabar berita hingga hari ini. Hidup seorang diri di sepetak kontrakan yang harus ditebusnya setiap bulan. Sedang rokok dan kopi tak setiap hari habis dibeli. Perempuan itu tak sanggup mengandai lagi. Maka ia lekat menatap wajah si ibu. Guratan usia, manis getirnya kehidupan, semua tergambar di  sana. Si ibu sesekali tertawa. Gelaknya riang sekali, bercanda dengan pedagang asongan di sekitarnya. Yah, inilah hiburan buatnya. Dibanding hanya mengutuki diri tak ada habisnya.

Ibu itu sudah puluhan tahun akrab dengan jalanan tersibuk seantero kota ini. Sesekali ia kucing-kucingan dengan petugas penertib jalanan. Mereka melarang adanya pedagang asongan. Entah karena apa. Kalaupun bukan penertip jalanan, si ibu harus bersitegang dengan sesamanya yang tak sudi berbagi kawasan. Dalam usaha pedagang asonganpun dikenal kawasan kerja. Ibu yang perempuan seringnya kalah. Beringsut ke tempat lain menghidari masalah.

“Ieu teh nungguan kabogoh, Neng?”

Perempuan itupun kembali menenggak kopinya. Ia lanjutkan cerita perihal dirinya. Pertama kali dalam hidup memutuskan untuk mandiri. Anak bungsu yang manja dan cengeng. Sekarang masih sama, tapi setidaknya cerita hidupnya lebih kaya.

“Kawan, Bu. Dia janji mau datang.”

“Lelaki?”

Muhun Bu...

Nama itu kembali muncul di layar telepon genggam. Lengkap dengan fotonya yang berkacamata. Perempuan itu kemudian terlibat sebuah obrolan sambil sesekali ia mengedarkan pandangan. Mencari lawan bicaranya yang kabarnya telah tiba.

“Kawan saya sudah datang, Bu. Dia nunggu di sebelah sana...”

“Ah, ya Neng. Sing hati-hati nya...”

Perempuan itu tersenyum. Sambil berpamit ia menaruh selembar rupiah untuk segelas plastik kopi sachetnya. Penuh sadar perempuan itu merasakan keadaan. Ia berdiri di pinggir sebuah jalan tersibuk seantero kota, dan di seberang jalan sana, ia melihat lelaki yang tiga puluh satu menit yang lalu menjanjikan akan datang, melambaikan tangan padanya. Memberi isyarat bahwa ia benar tiba.

Perempuan itu berjalan perlahan. Di sampingnya, lelaki itu mengajarkannya menangkap berbagai rupa manusia. Satu sisi kepala perempuan itu kembali penuh huru-hara, mengajak sisi lainnya untuk menyusun rima.


Dia penutur bentangan peristiwa,
perangkai beragam kata,
pelukis berkas cahaya,
peredam bara sukma,
pelantun kidung kala senja.
.
Tuan,
betapa tentangmu
adalah segala rupa yang ku cita.
.
[NF]

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe